Beranda | Artikel
Makna Assalam dan Perintah Menebarkannya
17 jam lalu

Makna Assalam dan Perintah Menebarkannya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 28 Sya’ban 1447 H /16 Februari 2026 M.

Kajian Islam Tentang Makna Assalam dan Perintah Menebarkannya

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Di dalam Al-Qur’an, tepatnya pada akhir surat Al-Hasyr, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ

“Dialah Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia, Maharaja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.” (QS. Al-Hasyr[59]: 23).

Nama Assalam menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selamat dari segala kekurangan. Tidak ada sedikitpun aib pada Dzat-Nya karena Dialah Assalam. Hal ini berbeda dengan hamba-Nya yang diciptakan penuh kekurangan agar senantiasa kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk mencari keselamatan, kesempurnaan, serta keridhaan-Nya. Tatkala seseorang mengucapkan “Assalamualaikum”, ia sejatinya sedang menebarkan nama Allah ‘Azza wa Jalla dan mengingatkan manusia akan keagungan Sang Pencipta.

Perintah Menebarkan Salam

Dalam hadits nomor 989, Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ السَّلَامَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى وَضَعَهُ اللَّهُ فِي الْأَرْضِ فَأَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Sesungguhnya Assalam adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Ta’ala yang Allah letakkan di bumi, maka tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki Asmaul Husna yang mengandung makna mendalam berkaitan dengan sifat atau perbuatan-Nya. Meskipun setiap daerah memiliki beragam kata penghormatan saat berjumpa atau melewati orang lain, tidak ada kata yang lebih mulia, lebih baik, dan lebih agung daripada Assalam.

Salam sebagai Benih Kasih Sayang

Penyebab manusia hidup dalam kesengsaraan sering kali bermula dari hilangnya hati yang selamat serta pudarnya rasa cinta di antara sesama umat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan kunci agar iman mencapai tingkatan yang sempurna melalui kasih sayang. Beliau bersabda:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Hidup dengan cinta mendatangkan keindahan, sedangkan kebencian, iri, dengki, dan dendam hanya akan membuat hidup terasa sempit. Seseorang yang menyimpan kedengkian akan merasakan azab di dalam hatinya sendiri. Keteladanan ini ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau memaafkan penduduk Thaif yang melemparinya dengan batu, serta memaafkan penduduk Mekkah saat peristiwa pembebasan kota tersebut. Menebarkan salam akan menumbuhkan benih-benih cinta di tengah masyarakat muslim sehingga tercipta kedamaian yang hakiki.

Kedudukan Assalam dan Pembetulan Bacaan Tasyahud

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengenai praktik para sahabat saat shalat di belakang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dahulu, ada di antara mereka yang mengucapkan “Assalamu ‘alallah” (salam atas Allah). Setelah menyelesaikan shalat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya untuk memastikan siapa yang mengucapkan kalimat tersebut. Beliau kemudian memberikan teguran sekaligus pengajaran bahwa ungkapan tersebut tidak tepat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah Assalam (Maha Sejahtera).” (HR. Bukhari).

Cara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Memperbaiki Kesalahan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukkan cara mendidik yang sangat indah. Beliau tidak menghardik atau memperpanjang kesalahan orang yang tidak mengerti tersebut, melainkan langsung memberikan arahan mengenai bacaan yang benar. Para sahabat mempelajari bacaan tasyahud ini dengan penuh perhatian, sebagaimana mereka mempelajari sebuah surat dari Al-Qur’an. Beliau mengarahkan agar dalam tasyahud mengucapkan:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ 

“Segala penghormatan (tahiyat) adalah milik Allah, begitu juga segala shalat dan kebaikan adalah milik Allah.” (HR. Bukhari).

Makna Pengagungan dalam Tasyahud

Kata Attahiyat bermakna segala bentuk pengagungan dan penghormatan hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah Al-Azim (Maha Agung) dan Al-Ali (Maha Tinggi) yang paling berhak dipuja. Segala keindahan, kesuksesan, dan kenyamanan berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sangat tidak pantas jika makhluk yang tidak mampu memberi manfaat bagi dirinya sendiri mendapatkan pengagungan yang merupakan hak mutlak Sang Pencipta.

Adapun makna Ash-shalawat merujuk pada ibadah shalat, seperti rukuk dan sujud, yang hanya dipersembahkan untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Shalat juga dapat bermakna doa. Karena doa adalah inti ibadah, maka setiap permohonan harus dipanjatkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, tidak dibenarkan meminta kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla atau meyakini adanya tempat serta orang-orang yang telah meninggal dunia dapat memberikan pertolongan. 

Makna Tasyahud: Pemurnian Ibadah dan Salam kepada Nabi

Ibadah shalat merupakan bentuk pengabdian mutlak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalimat Ash-shalawat dalam tasyahud menegaskan bahwa semua doa dan ibadah hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, seorang hamba tidak boleh berdoa dan memohon kecuali kepada-Nya. Demikian pula dengan At-Thayyibat, yang bermakna segala ucapan dan perbuatan yang baik adalah untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang bersifat lahir maupun batin. Kalimat-kalimat dalam tasyahud merupakan bentuk pemurnian ibadah yang mengandung keikhlasan. Meskipun ikhlas di lisan terasa mudah, namun lidah adalah cerminan hati. Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui isi hati manusia, apakah benar-benar mentauhidkan-Nya atau masih memiliki ketergantungan kepada selain-Nya.

Salam kepada Nabi dan Hamba-Hamba yang Saleh

Setelah memuji dan mengagungkan Sang Pencipta, barulah salam ditujukan kepada makhluk. Urutan tasyahud dimulai dengan penghormatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Semoga salam sejahtera tercurah kepadamu wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.” (HR. Bukhari).

Terdapat dua pendapat mengenai lafaz salam ini. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa setelah Nabi wafat, lafaznya menjadi Assalamu ‘alan Nabiyyi. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah riwayat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang mengajarkan tasyahud di atas mimbar dengan lafaz Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu.

Setelah mendoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita mendoakan diri sendiri dan hamba-hamba Allah yang saleh dengan mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

“Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.” (HR. Bukhari).

Urutan ini menunjukkan bahwa Nabi lebih utama bagi orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri. Setelah itu, iman diperbarui melalui syahadat yang menyatakan bahwa tidak ada Illah yang berhak diibadahi kecuali Allah ‘Azza wa Jalla dan Nabi Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.

Urgensi Mempelajari Lafadz Tasyahud dengan Benar

Para sahabat dahulu mempelajari lafadz tasyahud ini dengan sangat serius, sebagaimana mereka mempelajari sebuah surat dari Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu mengenai tata cara ibadah harian merupakan fardu ain yang wajib dipelajari dan dihafal dengan benar. Setiap muslim harus memastikan lafaz tasyahudnya sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tanpa ditambah atau dikurangi.

Meskipun terdapat beberapa variasi lafal yang sahih, seperti riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma yang berbunyi:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ

“Segala penghormatan yang penuh keberkahan, serta shalat dan kebaikan adalah milik Allah.” (HR. Muslim).

Setiap muslim, termasuk orang-orang tua yang sudah lama menghafalnya, perlu melakukan peninjauan kembali (murajaah). Hal ini bertujuan untuk memastikan shalat yang dilakukan telah sempurna sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Enam Hak Sesama Muslim dalam Kehidupan Sehari-hari

Pembahasan kemudian berlanjut pada bab ke-452 mengenai hak seorang muslim atas muslim lainnya, yaitu mengucapkan salam apabila saling berjumpa. Memberikan salam bukan sekadar tradisi, melainkan pemenuhan hak persaudaraan dalam Islam yang akan menumbuhkan rasa cinta di antara sesama.

Sesama muslim diwajibkan untuk saling mengucapkan salam saat berjumpa, baik kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Imam Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan adanya enam hak yang dimiliki seorang muslim atas muslim lainnya:

حق المسلم على المسلم خمس ، قيل : وما هي ؟ قال اذا لقيته فسلم عليه ، واذا دعاك فأجبه ، واذا استنصحك فانصح له ، واذا عطاس فحمدالله فشمته ، واذا مرض فقده ، واذا مات فاصحبه 

“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: Apabila engkau berjumpa dengannya, maka ucapkanlah salam; apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya; apabila ia meminta nasihat kepadamu, maka berilah nasihat; apabila ia bersin lalu memuji Allah, maka doakanlah; apabila ia sakit, maka jenguklah; dan apabila ia meninggal dunia, maka antarkanlah jenazahnya.” (HR. Muslim).

Mengabaikan hak-hak tersebut merupakan bentuk kezaliman. Seseorang tidak boleh hanya menuntut kewajiban orang lain terhadap dirinya, tetapi ia juga harus memberikan hak-hak orang lain tersebut dengan sempurna.

1. Mengucapkan Salam saat Berjumpa

Hak pertama adalah memberikan salam. Terdapat adab yang perlu diperhatikan, yaitu junior memberikan salam kepada senior, orang yang berjalan kaki kepada yang duduk, orang yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki, serta kelompok kecil kepada kelompok yang lebih besar. Memberikan salam merupakan pelaksanaan hak saudara muslim. Mengenai dijawab atau tidaknya salam tersebut, hal itu bukan lagi menjadi urusan bagi yang mengucap salam, melainkan tanggung jawab orang yang menerimanya. Seseorang hendaknya fokus pada tugas pribadinya dan tidak menyibukkan diri dengan domain orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang yang meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).

2. Memenuhi Undangan

Hak kedua adalah menghadiri undangan, terutama walimah yang tidak memerlukan perjalanan jauh (safar) dan tidak mengandung kemungkaran. Menghadiri undangan tersebut merupakan bentuk penghormatan dan pemenuhan hak saudara muslim.

3. Memberikan Nasihat

Hak ketiga adalah memberikan nasihat yang jujur jika diminta. Nasihat berarti menginginkan kebaikan bagi orang lain tanpa membahayakannya. Sangat memprihatinkan apabila seorang muslim justru memanfaatkan atau menipu saudaranya sendiri di saat saudaranya tersebut membutuhkan arahan dan pencerahan.

4. Mendoakan Orang yang Bersin

Hak keempat adalah mendoakan saudara yang bersin. Apabila seseorang mendengar saudaranya bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah”, maka ia wajib membalasnya dengan ucapan “Yarhamukallah” (semoga Allah merahmatimu). Meskipun berada di tempat yang berbeda, mendoakan saudara yang memuji Allah adalah hak yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

5. Menjenguk Orang Sakit

Hak kelima adalah menjenguk saudara yang sedang sakit. Aktivitas ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Jika seseorang berangkat menjenguk di pagi hari, terdapat 70.000 malaikat yang memohonkan ampunan untuknya hingga sore hari. Begitu pula jika dilakukan pada sore hari, para malaikat akan mendoakannya hingga pagi hari.

6. Mengantarkan Jenazah

Hak terakhir adalah mengantarkan jenazah saudara muslim yang meninggal dunia. Rangkaian hak ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan jalinan persaudaraan, mulai dari urusan undangan, pemberian nasihat, perlindungan melalui doa saat bersin, kunjungan saat sakit, hingga penghormatan terakhir saat wafat.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56092-makna-assalam-dan-perintah-menebarkannya/